Penulis:
Rani Destia Wahyuningsih, Ahmad Zufar Robbani, Qisha Quarina
Bidang Kajian Microeconomics Dashboard 2025
Ringkasan Eksekutif
- Defisiensi tidur (sleep deficiency) merupakan kondisi ketika individu tidak memperoleh durasi dan/atau kualitas tidur yang memadai, termasuk tidur yang tidak selaras dengan ritme biologis, kualitas tidur yang buruk, serta adanya gangguan tidur.
- Meskipun sering tidak disadari dan jarang dilaporkan, sleep deficiency telah berkembang menjadi isu kesehatan global dengan implikasi ekonomi yang luas, terutama melalui penurunan produktivitas tenaga kerja dan hilangnya jam kerja.
- Faktor individu, termasuk rendahnya aktivitas fisik, status gizi overweight atau obesitas, serta kebiasaan merokok, bersama dengan kondisi kesehatan mental, merupakan determinan penting dalam terjadinya sleep deficiency. Selain itu, faktor struktural seperti durasi perjalanan kerja (commuting time) yang panjang turut berkontribusi terhadap berkurangnya waktu tidur.
- Prevalensi sleep deficiency secara global menunjukkan adanya pola ketimpangan sosial-ekonomi. Kelompok dengan tingkat pendidikan lebih rendah dan individu yang berstatus menganggur cenderung memiliki kualitas tidur yang lebih buruk dibandingkan kelompok lainnya.
- Secara lintas negara, hanya sekitar separuh orang dewasa dunia yang melaporkan memperoleh tidur yang cukup, dengan Jepang dan Korea Selatan menempati posisi terbawah dalam persentase penduduk yang mendapatkan tidur cukup.
- Di Indonesia, sleep deficiency menunjukkan bahwa meskipun mayoritas masyarakat menilai kualitas tidurnya berada pada kategori “cukup”. Lebih dari 25 persen individu mengalami kesulitan tidur lebih dari tiga kali dalam seminggu, mengindikasikan adanya masalah tidur yang bersifat berulang.
- Pengukuran economic costs di negara maju oleh Hafner et al. (2017) melalui pendekatan mikro menilai kerugian produktivitas akibat absenteeism dan presenteeism, dan menemukan adanya hubungan berbentuk U-shaped relationship antara durasi tidur dan produktivitas kerja.
- Hafner et al. (2017) melalui pendekatan makro menggunakan model keseimbangan umum dinamis berbasis Overlapping Generations (OLG) menemukan bahwa setiap skenario perbaikan durasi tidur secara konsisten meningkatkan produk domestik bruto (PDB).
FULL VERSION: Kajian Vol.13